Tools:
Powered by AdinJava

7 Fakta Menarik tentang Kadal Terbang, Draco Volans: Asia Tenggara yang Memikat dari Balik Rimbun Hutan

Table of Contents

AdinJava – Di tengah lebatnya hutan hujan tropis Asia Tenggara, ada seekor kadal mungil yang dijuluki “naga terbang”. 

Meski tak benar-benar memiliki sayap layaknya burung atau kelelawar, kadal ini mampu meluncur anggun dari pohon ke pohon, membuat siapa pun yang menyaksikan terpukau.

Makhluk tersebut bernama Draco volans, yang dalam bahasa Latin berarti naga terbang. Tidak hanya kemampuan meluncurnya yang menakjubkan, kadal ini juga menyimpan berbagai keunikan lain yang menarik untuk dikenali lebih dekat.

1. Klasifikasi Ilmiah

Draco volans termasuk dalam famili Agamidae dan genus Draco. Nama Draco volans berasal dari bahasa Latin yang berarti "naga terbang". Dalam genus Draco ini terdapat sekitar 45 spesies lainnya, di antaranya:

  • Draco abbreviatus

  • Draco blanfordii

  • Draco boschmai

  • Draco cristatellus

  • Draco dussumieri

  • Draco formosus

  • Draco indochinensis

  • Draco iskandari

  • Draco maximus

  • Draco melanopogon

  • Draco modiglianii

  • Draco ornatus

  • Draco quinquefasciatus

  • Draco reticulatus

  • Draco spilopterus

  • Draco taeniopterus

  • Draco walkeri

Draco volans termasuk dalam famili Agamidae dan genus Draco. Genus ini mencakup sekitar 45 spesies kadal meluncur lain, seperti Draco iskandari, Draco maximus, hingga Draco ornatus. Mereka diperkirakan telah berevolusi sekitar 60 juta tahun lalu dari kerabat yang tak memiliki kemampuan meluncur.

2. Adaptasi Unik untuk “Terbang”

Draco volans lebih suka hidup di pepohonan ketimbang lantai hutan yang penuh pemangsa. Rahasianya ada pada tulang rusuk yang memanjang dan dilapisi selaput kulit, membentuk struktur mirip sayap. 

Saat ingin meluncur, “sayap” ini terbuka, sementara ekor panjangnya berfungsi sebagai kemudi. Kadal mungil ini bisa melayang sejauh 9 meter hanya dengan sekali luncur.

3. Warna dan Ciri Fisik

ilustrasi kadal terbang atau Draco volcans (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Tubuhnya relatif kecil, hanya sekitar 20 cm, dengan pola cokelat belang yang membuatnya mudah berkamuflase. Namun, bagian bawah sayapnya memamerkan keindahan tersembunyi: jantan berwarna biru, betina berwarna kuning. Mereka juga memiliki dewlap (lipatan kulit di leher) yang cerah, berfungsi untuk komunikasi, terutama di musim kawin.

4. Habitat dan Kebiasaan Hidup

Kadal terbang ini tersebar luas di Asia Tenggara: mulai dari India bagian selatan, Kalimantan, hingga Filipina. Mereka lebih suka hutan sekunder terbuka, tempat cahaya matahari masih menembus pepohonan.
Meski kadang dipelihara, sebenarnya kadal ini sulit dirawat, bahkan oleh kebun binatang. Mereka lincah, mudah stres, dan memerlukan ruang luas menyerupai hutan mini. Di sejumlah wilayah, pemeliharaannya bahkan dilarang secara hukum.

5. Proses Reproduksi

Musim kawin biasanya berlangsung sekitar Desember–Januari. Jantan akan memamerkan sayap, menganggukkan tubuh, dan mengibaskan dewlap untuk menarik perhatian betina. Namun, betina bisa menolak dengan gerakan tubuh tertentu.
Saat bertelur, betina menggali lubang kecil, meletakkan 5 butir telur, lalu menutupnya dengan tanah. Ia menjaga telur hanya 24 jam sebelum meninggalkannya. Sekitar 32 hari kemudian, telur akan menetas.

6. Musuh Alami dan Ancaman

ilustrasi kadal terbang (commons.wikimedia.org/A.S.Kono)

Dengan tubuh kecil, Draco volans sering jadi santapan burung, ular, dan kadal lain. Warna tubuhnya yang menyerupai batang pohon menjadi tameng utama untuk bertahan hidup. Walau tidak diburu untuk konsumsi, ia kadang ditangkap sebagai hewan peliharaan.

7. Manfaat Bagi Manusia

Draco volans tidak memiliki manfaat konsumsi atau medis, namun kehadirannya memberi nilai estetika. Menyaksikan kadal mungil ini meluncur di antara pepohonan adalah pengalaman alam yang langka sekaligus mengingatkan manusia pada pentingnya melestarikan hutan hujan tropis.


Draco volans adalah bukti nyata betapa luar biasanya adaptasi makhluk hidup. Dengan sayap tipisnya, warna yang indah, serta perilaku unik, ia menjadi salah satu penghuni hutan paling menawan. Si “naga kecil” ini juga mengingatkan kita: tanpa hutan tropis, keajaiban semacam ini bisa hilang selamanya.

Posting Komentar